Kamis, 03 Maret 2011

** Tafsir Tarjuman Al-Mustafid

Tarjuman al-Mustafid;

Tafsir Lengkap Pertama Di Indonesia Berbahasa Melayu

Karya Syaikh ‘Abd al- Rauf al-Singkili [1]

Oleh : K. Muhamad Hakiki

Pendahuluan

Malam masih menebar pekat ketika sebuah pesta dengan hingar bingar musik organ tunggal digelar di arena komplek sebuah pekuburan kramat di Deah Raya Aceh. Aroma alkohol beredar di lokasi yang berjarak 100 meter dari bibir pantai itu. Entah dari mana datangnya, seorang berjubah putih tiba-tiba muncul di tengah kerumunan pesta. Tempat suci itu sebenarnya tak layak dijadikan tempat untuk hura-hura—berbau maksiat. Begitu katanya singkat. Bukannya digubris, lelaki berjubah itu malah ditertawainya bahkan ditodong senjata.

Esok harinya, tsunami menghumbalang Tanah Rencong itu. Gelombang air lautan setinggi gunung di minggu pagi itu meluluhlantakkan ribuan rumah dan bangunan. Tak satu pun yang mampu menahan derasnya gelombang air laut yang siap melahap apapun di depannya. Ratusan ribu jiwa jadi korban. Beredar kabar, makam di arena pekuburan kramat tetap utuh. Konon, ketika ombak menggulung, makam itu naik mengikuti ketinggian gelombang.

Kisah mistis (yang mungkin bagi kebanyakan orang adalah tahayul) semacam ini memang banyak bermunculan paska Serambi Makkah (Aceh) diguncang tragedi tsunami yang maha dahsyat itu. Salah satunya, ya kisah tentang si makam kramat tadi–memang sesuatu yang sulit diterima akal sehat oleh kebanyakan orang.

Makam yang dianggap kramat oleh masyarakat sekitar itu tak lain adalah makam seorang ulama besar yang bergelar Teungku Syiah Kuala. Ia ahli tasawuf (sufi), seorang syaikh (guru) tarekat, juga--dan ini yang paling penting--mufassir (pentafsir Al-Qur’an) pertama yang menafsirkan Al-Qur’an secara utuh yang pernah dimiliki nusantara.

Membaca atau mendengar nama ‘Abd al- Rauf al-Singkili mungkin masih terasa asing ditelinga kita, siapa dia ?, dari mana dia berasal?, tokoh apakah dia? Apa yang menyebabkan dia disebut-sebut ? itulah mungkin sederet pertanyaan yang akan kita ajukan jika kita membaca atau mendengar nama ‘Abd al- Rauf al-Singkili.

Akan tetapi jika kita menelisik beberapa karya sejarah yang dipunyai bangsa Indonesia khususnya sejarah Islam bagian Aceh, maka kita akan menjumpai nama itu sebagai nama yang dimiliki oleh seorang ulama yang cukup terkenal bukan saja di tanah airnya akan tetapi juga didunia Internasional dari abad ke 17 sampai sekarang. ‘Abd al- Rauf al-Singkili dikenal sebagai seorang ahli tasawuf (sufi) dan syaikh (guru) tarekat dan yang sangat penting adalah ia seorang mufassir (pentafsir Al-Qur’an ) pertama yang menafsirkan Al-Qur’an secara utuh (lengkap) yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Biografi ‘Abd al- Rauf al-Singkili

Sosok ini mempunyai nama lengkap ‘Abd al-Rauf bin ‘Ali Al-Jawi Al-Fansuri Al-Singkili atau yang biasa disebut ‘Abd al-Rauf al-Singkili (Al-Singkili) merupakan salah satu dari empat ulama masyhur dan berpengaruh yang pernah muncul di Aceh pada abad 17 M.[2] Tahun kelahiran al-Singkili tidak diketahui secara pasti, namun seorang peneliti yakni Prof. Rinkes mengadakan kalkulasi kebelakang di hitung dari saat kembalinya dari Timur Tengah ke Aceh, maka as-Singkili diperkirakan lahir sekitar tahun 1615 M (1024 H),[3] di daerah Singkel yang terletak diujung selatan pantai Barat Aceh. al-Singkili meninggal sekitar tahun 1105/1693 dikuburkan di Kuala atau mulut sungai Aceh. Tempat tersebut juga menjadi kuburan istri-istrinya, Daud Rumi dan para murid lainnya. kuburan al-Singkili sampai saat ini menjadi tempat ziarah terpenting di daerah Aceh.[4]

Perjalanan Intelektual

Al-Singkili adalah seorang ulama yang cukup disegani pada masanya. Karier Pendidikan al-Singkili ditanah airnya tidak begitu jelas diketahui, tetapi menurut salah satu sumber yang mengkaji al-Singkili, al-Singkili Memulai pendidikan awalnya ditanah kelahirannya, yakni di Singkel, terutama dari ayahnya. Menurut Hasjmi, ayahnya adalah seorang alim, dan juga mendirikan sebuah madrasah yang menarik murid-murid dari berbagai tempat yang berada di kesultanan Aceh.[5] Besar kemungkinan juga beliau melanjutkan pendidikannya di Barus atau biasa disebut dengan Fansur suatu daerah terpencil di pesisir pantai barat Sumatera Utara. Seperti diungkap oleh seorang sejarawan bernama Drakkard dalam bukunya History of Barus, mengatakan bahwa “negeri itu (Barus) merupakan pusat Islam yang cukup penting sekaligus titik penghubung antara orang melayu dengan kaum muslimin dari Asia Barat dan Asia Selatan”.[6] Selanjutnya, menurut sejarawan Indonesia A. H. Hasjimi, penulis buku “Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, ulama Negarawan yang Bijaksana”, al-Singkili kemudian melanjutkan pendidikannya ke Banda Aceh, ibukota Kesultanan Aceh, untuk belajar dengan, antara lain, Hamzah Al-Fansuri dan Syams Al-Din Al-Sumatrani. [7] Namun anggapan tersebut dibantah oleh Azyumardi Azra, penulis buku Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII yang terbit pada 1998. Menurutnya anggapan tersebut tidak masuk akal.[8]

Menurut Azyumardi Azra, al-Singkili tidak mungkin berguru (bertemu) dengan Hamzah Al-Fansuri, sebab menurutnya Hamzah meninggal sekitar tahun 1016/1607, pada saat itu al-Singkili belum lahir. Mengenai bergurunya Al-Singkili dengan Syams Al-Din Al-Sumtrani, Azyumardi Azra memperkirakan bahwa kemungkinan al-Singkili pada waktu itu berada pada usia belasan tahun. Tetapi menurutnya tidak ada indikasi untuk mendukung kemungkinan hal itu.

Pada masa al-Singkili dilahirkan, tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama, kondisi Aceh pada masa itu berada dalam puncak kejayaan, dibawah pimpinan sultannya yang terbesar, yakni Iskandar Muda.[9] Seteleh al-Singkili menempuh pendidikan di tanah kelahirannya, ia berangkat kenegeri Arab sekitar tahun 1643 (1064 H) dalam rangka memperdalam dan memperluas pengetahuannya dalam bidang agama. Situasi dan kondisi tanah kelahirannya ketia keberangkatan al-Singkili ke Arab berbeda ketika pada masa ia dilahirkan, pada masa itu negeri Aceh teleh dipimpin oleh seorang wanita (Ratu) bergelar Sultanah Safiyatuddin yang sedang berada dalam suasana kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.[10] Besar kemungkinan, faktor ini yang mendorongnya melanjutkan pendidikan ke tanah Arab. Situasi ini berbeda ketika al-Singkili lahir dan mulai tumbuh di bumi rencong di bawah kendali seorang sultan bergelar Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaannya juga faktor-faktor lain yang telah disebutkan di atas.

Meskipun perjalanan intelektual al-Singkili di negeri tanah kelahirannya tidak begitu jelas, namun berbeda dengan perjalanan intelektual al-Singkili di negeri Arabia. Dia meninggalkan catatan biografis mengenai studinya di tanah Arab. Dalam salah satu karyanya yakni ‘Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufridin beliau memberikan (menambahkan) sebuah catatan yang menyatu dengan kolofon kitab tersebut. Dalam kitab itu beliau memberikan penjelasan mengenai tarekat-tarekat yang dia pelajari, tempat-tempat dimana ia singgah dan belajar, guru-guru dari siapa ia menimba ilmu, lamanya ia belajar di Arabia kurang lebih 19 tahun, dan para ulama yang ia temui di jelaskannya meskipun diuraikan secara ringkas.[11]

Dalam catatan perjelanan intelektual al-Singkili yang ia tulis pada kitab tersebut, beliau menjelaskan bahwa ia telah berguru kepada 19 guru yang dari mereka ia menimba berbagai macam disiplin ilmu, 27 orang ulama dengan mereka ia mempunyai kontak dan hubungan pribadi.[12]

Al-Singkili belajar disejumlah tempat yang tersebar di sepanjang rute haji, dari Dhuha di wilayah teluk Persi, Yaman, Jeddah, dan pada akhirnya ia singga di Mekkah dan Madinah. Diantara guru-guru al-Singkili adalah ‘Abd Al-Qadir Al-Mawir (Dhuha), Ibrahim b. ‘Abd Allah b. Ja’man dan Qadhi Ishaq b. Muhammad b. Ja’man (Yaman), Ahmad Al-Qusyasyi dan Ibrahim Al-Kurani (Madinah), dan masih banyak lagi guru-guru al-Singkili lainnya.[13]

Karya-karyanya

‘Abd al-Rauf al-Singkili merupakan seorang ulama yang produktif, terbukti lebih dari 21 karya dalam versi lain 22 karya telah dihasilkannya baik itu yang ditulis dalam bahasa Melayu maupun bahasa Arab. Dari karya yang ditulis olehnya mencakup berbagai macam disiplin ilmu yaitu fiqih, tafsir, hadits, kalam, tasawuf dan lain-lain. Diantara karya-karya ‘Abd al-Rauf al-Singkili adalah: Pertama, dalam bidang ilmu tafsir: Tarjuman Al-Mustafid, (karya manumentalnya). Kedua, dalam bidang fikih: Mir’at Al-Thullab fi Tasyil Ma’rifat Al-Ahkam Al-Syar’iyyah li Al-Malik Al-Wahhab, kitab ini merupakan kitab kajian fikih lebih khususnya adalah fikih mu’amalah yang berisi saduran dari kitab Fath al-Wahhab karangan Zakariyya al-Anshari dan merupakan kitab fikih mua’malah pertama di Nusantara (Indonesia),[14] Kitab Al-Fara’idh. Ketiga, dalam bidang hadits : penafsiran mengenai Hadits Arba’in (empat puluh hadits) karya Imam An-Nawawi kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakkiyyat Al-Din,[15] Al-Mawa’izh Al-Badi’ah; kitab ini merupakan kumpulan hadits qudsi. Keempat, dalam bidang tasawuf : Kifayat Al-Muhtajin ila Masyrab Al-Muwahhidin Al-Qa’ilin bi Wahdat Al-Wujud; kitab ini berisi ajatan-ajaran mistis yang mencoba mempertahankan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya. beliau menolak pendapat wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam ciptaan-Nya,[16] Kitab tasawuf lainnya adalah Daqa’iq Al-Huruf; kitab ini merupakan argumentasi pendek penafsiran atas apa yang dinamakan “empat baris ungkapan panteistis” Ibn ‘Arabi.[17] Adapaun dalam menafsirkan ungkapan Ibn ‘Arabi sebagaimana diungkapkan oleh A.H. Johns bahwa Abd al-Rauf al-Singkili menafsirkannya dengan pengertian ortodoks,[18] yang membuktikan bahwa alam dan Tuhan tidaklah dapat disamakan. Kitab tasawuf lainnya adalah ‘Umdat al-Muhtajin,dan Bayan Tajalli, dan masih banyak karya tulis (tasawuf) lainnya.

Dari karya al-Singkili yang begitu banyak jumlahnya, nampaknya kitab tafsir yakni Tarjuman al-Mustafid-lah yang merupakan buah karya manumental dari al-Singkili. Kitab ini dikenal sebagai kitab tafsir pertama yang muncul di Indonesia dengan menggunakan bahasa Melayu-Arab. Akan tetapi, jika kita melihat kefasihan ilmu yang dikuasainya, maka sosok al-Singkili lebih dikenal sebagai ulama ahli tasawuf atau tarekat.

Tafsir Tarjuman Al-Mustafid

Tafsir Tarjuman Al-Mustafid merupakan karya tafsir lengkap pertama dalam bahasa (Arab) melayu[19] yang sampai saat ini masih ada.[20] Tafsir ini disusun oleh ‘Abd al-Rauf al-Singkli[21] seorang ulama yang terkenal kelahiran Aceh. Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab yang terpenting dari dua puluh lebih kitab yang dikarang olehnya.

Tafsir Tarjuman al-Mustafid sebagai tafsir pertama yang muncul di Indonesia telah begitu dikenal di mancanegara terbukti dengan dicetaknya dan diterbitkannya karya ini diantaranya di Istambul (Konstantinopel) yang diterbitkan oleh Mathba’ah Al-‘Utsmaniyyah pada tahun 1302/1884 konon dijadikan bukti persahabatn antara Kerajaan Turki dengan umat Islam di Nusantara dan juga pada tahun 1324/1906,[22] sesudah itu dicetak berkali-kali di Singapura, Penang, Bombay, Afrika Selatan dan di Timur Tengah diantaranya di Kairo oleh Sulayman Al-Maraghi, dan di Makkah oleh Al-Amiriyyah.[23] Bahkan salinan paling awal pun, sampai saat ini masih ada yang berasal dari akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18.[24] Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan kitab tafsir yang mempunyai nilai tinggi dan sekaligus mencerminkan ketinggian ilmu penulisnya. Ketenaran tafsir Tarjuman al-Mustafid tidak hanya pada masa lalu, sampai saat ini tafsir tersebut tetap dipakai dan diterbitkan. Edisi terakhir tafsir tersebut diterbitkan di Jakarta pada tahun 1984.[25]

Pada mulanya tafsir Tarjuman Al-Mustafid dianggap sebagai karya terjemahan dari sebuah karya tafsir Al-Qur’an yakni tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karangan al-Baidhawy (w. 1385). Keterangan yang menyebutkan bahwa tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan karya terjemahan dari tafsir al-Baidhawy adalah datang dari seorang orientalis berkebangsaan Belanda yakni Snouck Hurgronje dengan mengatakan bahwa: "Hasil karya Abdurrauf yang terkenal lainnya adalah terjemahan tafsir Al-Qur’an karangan Al-Baidhawy ke dalam bahasa Melayu”.[26] Statemen Snouck Hurgronje di atas kemudian diikuti oleh beberapa serjana Eropa yang menganalisa tafsir Tarjuman al-Mustafid atau tafsir Anwar al-Tanzil karya al-Baidhawy diantaranya adalah Prof. Rinkers yang nota bene adalah murid Snouck Hurgronje sendiri. Rinkers bahkan menambahkan bahwa “Tafsir Tarjuman al-Mustafid disamping mencakup terjemahan dari tafsir Al-Baidhawy juga merupakan karya terjemahan dari tafsir jalalayn”.[27]

Hal senadapun diikuti oleh Dr. Voorhoeve seorang sarjana asal Belanda yang mengedit salah satu karya ‘Abd al- Rauf al-Singkili yakni Bayan Tajalli. Tetapi, pada akhirnya yakni delapan tahun kemudian Dr. Voorhoeve curiga dengan pendapat tersebut dan ia mengubahnya dan berpendapat bahwa sumber-sumber rujukan dari Tafsir Tarjuman al-Mustafid bukan hanya tafsir Al-Baidhawy saja tetapi berbagai karya tafsir berbahasa Arab.[28]

Pendapat Snouck Hurgronje di atas ternyata berpengaruh juga terhadap edisi cetakan dari tafsir Tarjuman al-Mustafid. Prof. Peter Riddell yang menulis sebuah disertasi mengenai tafsir Tarjuman al-Mustafid di ANU Canberra mengatakan bahwa asal mula tersebarnya anggapan tersebut berasal dari edisi cetak pertama yang beredar di Istambul pada tahun 1884. Pada halaman judul memuat pernyataan berikut: “Inilah kitab yang bernama Tafsir Tarjuman al-Mustafid bi al-jawi yang diterjemahkan dengan bahasa jawi yang diambil setengah maknanya dari Tafsir Al-Baidhawy”.[29] Pernyataan ini secara umum telah diterima oleh para serjana Islam di Asia Tenggara, Makkah dan Eropa.

Keterangan Snouck Hurgronje dan muridnya di atas pada akhirnya memperoleh bantahan dari beberapa peneliti selanjutnya yakni Prof. Peter Riddell dan Prof. Salman Harun, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.[30] Menurut Riddell bahwa karya tafsir Tarjuman al-Mustafid tersebut bukanlah terjemahan Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karya al-Baidhawy, hal senadapun hampir sama dengan apa yang diungkapkan Salman Harun yang mengatakan bahwa tafsir Tarjuman ql-Mustafid merupakan karya terjemahan dari tafsir Jalalayn, hanya pada bagian-bagian tertentu saja diambil dari tafsir al-Baidhawy dan Al-Khazin (wafat. 741/1340).[31]

Terlepas dari benar atau tidak pendapat-pendapat di atas, yang terpenting adalah bahwa hadirnya sosok al-Singkili sebagai mufassir pada saat itu merupakan berita gembira bagi kalangan muslim di bumi Nusantara, mengingat al-Singkili bukan hanya masyhur di dunia domestik (Indonesia) akan tetapi juga di dunia Internasional. Wallahu a’lam.



[1] Tulisan ini pernah di muat dalam Majalah Syir’ah edisi Februari 2006, dan www.knowledge-leader.net

[2] Diantara empat ulama paling terkemuka yang pernah muncul di Aceh adalah: Hamzah Fansuri seorang sufi yang membawa ke Aceh atau Asia Tenggara paham pantaisme (wahdatul wujud) yang berasal dari Ibnu Arabi dan pada akhirnya ia di vonis sesat, beliau juga penyair pertama yang memperkenalkan bentuk syair kedalam sastra melayu, meninggal tahun 1016/1607, Syamsuddin al-Sumatrani seorang sufi satu angkatan lebih muda dari Hamzah Al-Fansuru meninggal tahun 1630, beliau juga seorang guru sekaligus penasehat terkemuka Sultan Iskandar Muda, Nuruddin al-Raniri adalah seorang penentang faham Wahdatul Wujud Hamzah Fansuri, beliau adalah seorang sufi yang berasal dari Gujarat yang beraliran Ortodoks dan ahli fikih, meninggal tahun 1666. A-Raninri mempunyai konsep berbeda dengan aliran wahdatul wujud, beliau menganut aliran wahdat asy-Syuhud. Beliau juga pernah memperoleh kedudukan tinggi di Istana Aceh pada masa pemerintahan pengganti Sultan Iskandar Muda, yaitu Sultan Iskandar Tsani. dan ‘Abd al-Rauf al-Singkili seorang sufi moderat yang cukup dalam ilmunya, beliau juga pengarang kitab tafsir tarjuman Al-Mustafid, kitab tafsir pertama yang muncul di bumi Indonesia. ( Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19, INIS Jakarta, 1998, hlm. 469-476. Bandingkan dengan Ensiklopedi Islam, PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993, hlm. 78-79 ).

[3] D.A Rinkes, Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra en Java, Heerenven: Hepkema, 1909, 25-6. Sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah dan kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Mizan, Cet.IV, Bandung, 1998. Tahun perkiraan tersebut diterima oleh sebagain ahli tentang Al-Singkili diantaranya: Peter G. Riddel, Tafsir Klasik di Indonesia (Studi tentang Tarjuman al-Mustafid Karya Abdurrauf As-Singkily), Jurnal Mimbar Agama dan Budaya, Vol. XVII, No. 2, 2000. hlm. 3., Salman Harun, Hakikat Tafsir Tarjuman Al-Mustafid Karya Syekh Abdurrauf Singkel, Desertasi Doktor IAIN Jakarta, 1988.

[4] Azyumardi Azra, Ibid. 209.

[5] A. Hajsmi, Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, ulama Negarawan yang Bijaksana, dalama Universiatas Syiah Kuala Menjelang 20 Tahun, Medan, Waspada, 1980, Hlm. 370. Sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra, Ibid, hlm. 190.

[6] Ibid, hlm, 190.

[7] Ibid, hlm. 190

[8] Menurut Azyumardi Azra, Al-Singkili tidak mungkin berguru (bertemu) dengan Hamzah Al-Fansuri, sebab menurutnya Hamzah meninggal sekitar tahun 1016/1607, pada saat itu Al-Singkili belum lahir. Mengenai bergurunya Al-Singkili dengan Syamsuddin Al-Sumtrani, Azyumardi Azra memperkirakan bahwa kemungkinan Al-Singkili pada waktu itu berada pada usia belasan tahun. tetapi menurutnya tidak ada indikasi untuk mendukung kemungkinan hal itu. (Azyumardi Azra , Ibid, hlm. 190.

[9] Ensiklopedi Islam……., hlm. 32.

[10] Ibid, hlm. 32.

[11] Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah………, hlm. 191.

[12] Ibid, hlm. 191. Untuk lebih jelas tentang hubungan antara ulama Timur Tengah dengan ulama Nusantara (Indonesia) atau sebaliknya bisa dilihat dalam bukunya Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, Mizan, Bandung, 2002.

[13] Ibid, hlm. 191-198.

[14] Azyumardi Azra, Akar-akar Pembaruan Islam di Nusantara: Jaringan Ulama Indonesia-Timur Tengah Abad ke-17 dan ke-18, Jurnal Islamika, No. 1, Juli-September, 1993, hlm. 50.

[15] Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah………, hlm. 205.

[16] Ibid, hlm. 206.

[17] Lihat lafad empat baris ungkapan panteistis Ibn ‘Arabi berbunyi: Kunna hurufan ‘aliyatin lam nuqai // Muta’alliqatin fi dzura a’la al-qulal // Ana anta fihi wa nahnu anta wa anta hu // Wa al-kulu fi hu hu, fas’al ‘amman washal. Yang artinya (Kami huruf-huruf yang mulia, (umum) tak terucapkan // tersembunyi di puncak yang tertinggi dari bukit-bukit // Aku adalah engkau dalam Dia dan kami adalah engkau, dan engkau adalah Dia // dan semuanya adalah Dia dalam Dia- tanyalah mereka yang telah sampai. (Johns, Daka’ik Al-Huruf by ‘Abd Al-Rauf of Singkel, hlm. 61-69).Dikutip oleh Azyumardi Azra, Ibid, hlm. 206.

[18] Ibid, 61-69. Hal senadapun diungkapkan oleh A. Marie Schimmel, ia memuji cara Al-Singkili menafsirkan ungkapan tersebut A. Marie Schimmel, The Primordial Dot: Some Thoughts about Sufi Letters af Mysticism, Jerusalem Studies in Arabic and Islam , 1987, hlm. 354. Atau lihat Azyumardi Azra,Ibid. hlm 206.

[19] Huruf Arab melayu adalah huruf hijaiyah yang dipergunakan untuk menulis bahasa melayu. Huruf Arab melayu diduga muncul pada abad ke-13 pada kerajaan Samudra Pasai. Huruf ini biasanya ditulis tanpa harakat. Penulisannya biasanya di beri huruf Alif untuk tanda baca “a” dan diberi huruf “waw” kalau dibaca “u” dan diberi huruf “ya” jalau dibaca “I”. Jumlah hurufnya selain berjumlah seperti biasa di tambah 5 buah huruf. Huruf ini dinamakan huruf Jawi, sedangkan oleh ‘Abd Rauf al Singkili huruf ini dinamakan huruf jawi pasai. (Jurnal Al-Turats; Mimbar Sejarah, Sastra dan Budaya, Vol. I, No. 2, Oktober-Desember 1995, hlm. 17 atau bandingkan dengan Muhammad Naquib al-Atas, Islam dan sejarah kebudayaan melayu, Mizan, Cet.IV, Bandung, 1990, hlm. 61-63).

[20] Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebelum tafsir Tarjuman Al-Mustafid telah ada sebuah tafsiran yakni tafsiran atas surat 18 (Al-kahfi) karya ini diperkirakan ditulis pada masa Hamzah Fansuri atau Syamsuddin Al-Sumatrani. (Riddel, Tafsir Klasik di Indonesia……….., hlm. 9. bandingkan dengan Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah.

[21] Dalam penulisan tafsir Tarjuman Al-Mustafid, ada indikasi bahwa Al-Singkili dibantu oleh seorang murid kesayangannya adalah Dawud Al-Jawi Al-Rumi. Dia diperintahkan oleh gurunya membuat beberapa penambahan pada tafsir tersebut. Dan tugas itu berada dibawah pengawasan Al-Singkili sendiri. Jadi tetaplah bahwa tafsir Tarjuman Al-Mustafid adalah karya tafsir yang disusun oleh Al-Singkili meskipun ada penambahan yang di lakukan muridnya.

[22] Salman Harun, Mutiara Al-Qur’an, hlm. 198.

[23] Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah……….., hlm. 203. Untuk lebih jelas mengenai mengenai berbagai edisi penerbitan Tafsir Tarjuman Al-Mustafid dapat dilihat dalam bukunya Riddel, Transferring, atau Harun, Hakikat Tafsir, hlm. 38-42.

[24] Ibid, hlm. 203.

[25] Salman Harun, Mutiara Al-Qur’an ……..., hlm. 198.

[26] Petre G. Riddell, Tafsir Klasik di Indonesia…….., hlm. 4. Atau lihat Salman Harun, Mtiara Al-Qur’an ( Tarjuman Al-Mustafid; Tafsir Al-Qur’an Pertama di Indonesia), Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999, hlm. 198.

[27] Azyumardi Azra, Jaringan ulama Timut Tengah…….., hlm. 203.

[28] Ibid, hlm. 203. Atau lihat Peter G. Riddell, Tafsir Klasik di Indonesia……,, hlm. 5.

[29] Peter G. Riddel, Ibid, hlm. 4.

[30] Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dalam bukunya, Riddell, Transferring Tradition: ‘Abd al-Rauf al-Singkili’s Rendering into Malay of the Jalalain Comentary, Berkeley, CA: Centers for South and Southeast Asian Studies University of California. Atau, Salman Harun, Hakikat Tafsir Tarjuman Al-Mustafid Karya Syekh Abdurrauf Singkel, Desertasi Doktor IAIN Jakarta, 1988.

[31] Nama lengkap Al-Khazin adalah ‘Ala Al-Din bin Muhammad bin Ibrahim Al-Bagdadi Al-Khazin. Dapat dilihat tafsirnya Lubab Al-Ta’wil fi Ma’ani Al-Tanzil, Kairo: Mushthafa Al-Babi Al-Halabi, 1375/1955.

Tidak ada komentar: