Translate

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Januari 2011

** Robi'ah Al-Adawiyah Sang Pecinta Sejati

Rabi'ah al-Adawiyyah

Sang Pencinta Sejati

By. K. Muhamad Hakiki, MA

Jika kita mendengar atau membaca nama Rabi'ah al-Adawiyyah maka kita akan tertuju dan mengatakan dialah seorang sufi perempuan par excellence yang masyhur, dus pecinta sejati pada abad ke-dua Hijriyah.

Rabi'ah al-Adawiyyah adalah seorang sufi asal Bashra, Irak. Menurut Ibn Khallikan, nama lengkapnya adalah Rabi'ah al-Adawiyyah adalah Ummul Khair Rabi'ah binti Isma'il al-Adawiyyah al-Qasiyyah. Rabi'ah al-Adawiyyah juga lebih populer dikenal dengan nama Rabi'ah Bashri. beliau di lahirkan dari keluarga miskin. menurut cerita, ketika orang tuanya meninggal, ia dijual dan dijadikan sebagai budak, tetapi pada akhirnya ia dibebaskan oleh majikannya karena takwa dan kezuhudan dan kecintaannya. begitu cintanya ia kepada sang pencipta, sehingga ia dikenal oleh sufi-sufi sesuadahnya sebagai serang pengarung cinta sejati.

Fariduddin mengenang Rabi'ah dengan mengatakan:

"Dia adalah seseorang yang menjauhkan diri di dalam pengasingan kesucian; seorang perempuan yang tertutup dengan tutup ketulusan agama ; seorang yang terbakar dengan cinta dan kerinduan; seorang yang terpikat oleh keinginan untuk mendekati Tuhan-Nya , dan larut dalam keagungan-Nya; seorang perempuan yang menghilangkan dirinya di dalam kesatuan dengan Tuhan; seorang yang diterima oleh kaum laki-laki sebagai Maria kedua yang suci, Rabi'ah al-Adawiyah, semoga Tuhan memberikan rahmat padanya".

Yang menarik dari sosok Rabi'ah al-Adawiyah jika kita bandingkan dengan tokoh-tokoh sufi lainnya adalah tidak ada sufi besar yang mencapai tingkat kesempurnaan spiritual tanpa bantuan guru, terkecuali Rabi'ah, ia adalah seorang sufi tanpa guru (syaikh),hal tersebut terlihat dari tidak adanya satu keterangan pun yang mengatakan bahwa ia pernah berguru atau belajar kepada seorang guru. Rabi'ah mencapai status spiritual yang demikian agung lewat sembahyang dan puasa secara terus menerus.

Hal tersebut dapat terlihat dari salah satu ajaran terpenting Rabi'ah adalah tentang cinta sebagaimana ucapannya: "dengan dua cara aku mencintai-Mu: dengan mementingkan diri sendiri. dan dengan sebuah cinta yang layak adalah dari-Mu. dan dalam cinta yang mementingkan diri sendiri aku menemukan kebahagiaan di dalam diri-Mu. sementara kepada semua yang lain, dan lainnya, aku buta. tetapi, dalam cinta itu yang mencari Kamu dengan manfaat. Muncullah penutup yang membuat aku mungkin seperti dalam Kamu. Tetapi pujian itu atau ini bukanlah milikku. Pujian ini dan itu seluruhnya milik-Mu".

Wujud dari kecintaannya adalah do'a yang selalu dipanjatkan Rabi'ah: "wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di neraka. dan jika aki menyembah-Mu karena ingin masuk surga maka keluarkanlah aku dari surga, tetapi jika aku menyembah-Mu demi karena Kamu maka janganlah sembunyikan Keindahan Abadi-Mu dari ku".

Sosok Rabi'ah yang demikian agung juga menumbuhkan lagenda-lagenda cerita tentang keanehan sekaligus tanda kemulyaan pada diri Rabi'ah:

Fariduddin al-Attar menceritakan: pada suatu hari Rabi'ah ditanya: "Apakah kamu mencintai Tuhan yang Agung ?" Rabi'ah pun menjawab: "Ya", kemudia ia ditanya lagi: "Apakah kamu menganggap Setan sebagai musuh ?" Rabi'ah menjawab: "Tidak", mereka kemudian mendesak Rabi'ah dan bertanya:"Bagaimana bisa seperti itu ?", Rabi'ah pun kemudian menjelaskan dengan berkata: "Cinta ku kepada Tuhan tidak menyisakan sedikit ruan pun untuk membenci Setan".

Dalam riwayat yang lain, suatu hari ketika Rabi'ah di tanya oleh Sufyan ats-Tsauri, apa dasar keyakinannya ?. Rabi'ah pun menjawab: "Aku mengabdi pada Tuhan bukan karena aku takut akan neraka, jika aku melakukan hal tersebut karena takut maka aku harus menjadi seperti orang sewaan yang malang; tidak juga karena aku cinta surga, jika aku mengabdi demi apa yang telah diberikan maka aku akan menjadi abdi yang buruk, tetapi aku mengabdi kepada-Nya hanya untuk mendapatkan cinta-Nya dan keinginan-Nya.

Suatu hari ketika Rabi'ah berada di dekat tepi sungai. Hasan membuat tikar untuk sembahyangnya di atas permukaan air. Hasan pun berkata kepada Rabi'ah: "Wahai Rabi'ah, kemari dan kemarilah kita sembahyang dua rakaat bersama-sama". dengan jelas ia mengharapkan kekuatan Rabi'ah untuk menjaga karpet agar tidak tenggelam. lantas Rabi'ah pun berkata: "Hai Hasan, apakah perlu menawarkan dirimu sendiri dalam hiruk-pikuk dunia ini kepada orang-orang generasi yang akan datang ?.(Maksudnya, apakah diperlukan mencari untuk memenangkan reputasi dunia dengan sebuah hadiah spiritual?). Ini diperlukan oleh orang-orang semacam kamu karena kelemahanmu, sahut Rabi'ah. seketika itu pula Rabi'ah melemparkan tikar sembahyangnya di udara dan berjalan di atasnya dan berkata: "Hasan, kemarilah ke sini sehingga orang-orang dapat melihat kita". seketika itu pula Hasan terdiam seribu bahasa. melihat Hasan terdiam, Rabi'ah pun menghiburnya dengan berkata:"Hai Hasan, apa yang kamu lakukan, seekor ikan dapat melakukan hal yang sama, dan apa yang ku lakukan, seekor lalat dapat melakukan hal yang sama. Pekerjaan yang sesungguhnya (bagi orang-orang suci hamba Tuhan) melampaui kedua hal ini , dan untuk itulah perlu untuk menempatkan diri kita sendiri dengan pekerjaan yang sesungguhnya.

Fariduddin al-Attar menceritakan pada suatu hari Rabi'ah pergi ke sebuah gunung, setibanya di sana, ia didatangi dan dikelilingi oleh segerombolan binatang buas. kedatangan binatang buas tersebut untuk melihat Rabi'ah dari dekat. tak lama kemudian datanglah Hasan al-Bashri, seketika itu Hasan al-Bashri melihat Rabi'ah berada dalam lingkaran binatang buas. Akan tetapi ketika Hasan al-Bashri mendekati Rabi'ah seketika itu pula segerombolan binatang buas yang mengelilingi Rabi'ah kabur meninggalkannya. peristiwa itu membuat Rabi'ah dan Hasan al-Bashri kaget sekaligus heran dan bertanya-tanya dalam hatinya. tak lama kemudian Hasan al-Bashri berucap dan bertanya kepada Rabi'ah: "Mengapa mereka lari dan takut kepada ku, sementara mereka bersahabat denganmu (Rabi'ah) ?". Rabi'ah pun menjawab dengan pertanyaan: "Apa yang telah kamu makan hari ini?". Hasan al-Bashri menjawab:"Beberapa bawang (digoreng) dengan menggunakan minyak daging (hewan)". Rabi'ah menjawab:"Kamu makan daging mereka, bagaimana mereka (hewan buas) tidak lari dari mu?" (Margareth Smith,Rabi'a: The Life and Work of Rabi'a Other Women Mysticm in Islam, H. 56).

Itulan kisah perjalanan spiritual Rabi'ah al-Adawiyah seorang ibu dari para sufi yang pengalaman spiritualnya sampai saat ini selalu dipuja dan selalu diperbincangkan bukan saja oleh para ahli sufi akan tetapi bagi mereka para penikmat kajian tasawuf.**

Minggu, 25 Oktober 2009

** Zaid bin Tsabit

Zaid bin Tsabit;
Penyusun Kodifikasi Al-Qur’an Pertama

Oleh: K. Muhammad Hakiki, MA
Mahasiswa S3 UIN Bandung

Di seluruh dunia tak seorang muslim pun meragukan keaslian dan keabsahan kitab suci al-Qur’an yang merupakan verbum dei (kalam Allah) yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw secara verbatim dengan perantara Malaikat Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Bukti keyakinan itu sampai detik ini jutaan kaum muslimin masih mentadaruskan dan mengkaji isi kandungan al-Qur’an terutama pada bulan suci Ramadhan ini.
Turunnya al-Qur’an yang memakan waktu cukup lama, membuat al-Qur’an terpisah-pisah. Bukti historisnya adalah dalam ilmu al-Qur’an ada yang dinamakan ayat-ayat Makiyyah (ayat yang diturun di Makkah) dan Madaniyyah (ayat yang turun di Madinah). Lalu bagaimana proses pengumpulan dari yang terpisah dan tercecer kini menjadi satu kumpulan utuh yang dinamakan Mushaf Utsmani, siapa yang telah berjasa men-tadwin-kan atau mengkodifikasikan itu?
Jika kita membaca bagaimana sejarah peng-kodifikasi-an al-Qur’an, maka kita akan menemukan sahabat nabi yang bernama Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit adalah tokoh yang berjasa dalam mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an yang tercecer. Ia mendapat rekomendasi dari tiga Khalifah yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan untuk segera mengumpulkan al-Qur’an dengan pertimbangan banyaknya sahabat Nabi (para penghafal al-Qur’an) yang terbunuh dalam perang Yamamah.
Tulisan ini akan menyoroti diseputar pemilihan Zaid bin Tsabit sebagai ketua tim pentadwinan al-Qur’an dengan permasalahan: Apa kriterianya, mengapa zain bin Tsabit yag terpilih, apakah tidak ada sahabat lain yang mempunyai kemampuan lebih dari Zaid sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan menjadi fokus kajian dalam kesempatan kali ini.
Zaid bin Tsabit adalah salah seorang sahabat nabi dari kaum Anshar dan berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya adalah Abu Kharijah Zaid bin tsabit bin ad-Dahhak bin Zaid bin Laudan bin Amr bin Abd Manaf bin Ganam bin Malik bin an-Najjar al-Ansari al-Khazraji. Beliau ditinggalkan oleh ayahnya ketika berusia sebelas tahun.
Sejak masa muda, Zaid sudah hafal surat dan ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika berada di Madinah. Ia diangkat menjadi sekretaris Nabi untuk menulis wahyu yang turun dan menulis surat-surat kepada orang Yahudi. Ia sangat cerdas dan cepat memahami bahasa asing. Bahasa Yahudi menurut satu riwayat, dipelajarinya dalam waktu 17 hari. Kecerdasan dan luasnya pengetahuan membuatnya dijuluki “ulama masyarakat” ia juga terkenal sebagai ahli dalam ilmu fara’id (pembagian harta pusaka).
Bahkan menurut riwayat, Abddullah bin Abbas sering mendatangi rumahnya untuk berguru, padahal Abdullah bin Abbas sendiri dikenal sebagai bapak Para Mufassir al-Qur’an. Ia berkata: “ilmu itu didatangi, bukan mendatangi” kata Ibn Abbas ketika ditanya orang, mengapa ia selalu mendatangi rumah Zain bin Tsabit. Suatu ketika Abdullah bin Abbas memegang pelana kuda yang akan dinaiki oleh Zaid, tetapi Zaid mencegahnya karena hal itu dipandang terlalu memuliakannya. Ibn Abbas menjawab, “beginilah cara aku memuliakan ulama”. Kemudian Zaid mengambil tangan Ibn Abbas dan menciumnya sambi berkata: “Beginilah kami disuruh memuliakan keluarga Nabi”.
Menurut sebuah hadits yang kemudian dijadikan alasan pemilihan Zaid dikemudian hari adalah pertimbangan Abu Bakar memilih Zaid. Dalah hadits itu di jelaskan bahwa ketika Abu Baker ditanya oleh Zaid perihal alasannya memilih Zaid adalah bahwa Zaid adalah termasuk orang yang cekatan, relative masih muda, tidak diragukan kemampuannya, pernah menjadi pencatat wahyu atau sekretaris Rasulullah. Pertimbangan-pertimbangan inilah yang kemudian Abu Bakar dan Umar memilih Zaid untuk menjadi orang yang bertugas mengumpulkan al-Qur’an.
Jika melihat dari pertimbangan Abu Bakar dalam memilih Zaid di atas, nampaknya faktor-faktor tersebut tidak begitu berperan penting dalam kaitan tentang tugas sebagai pengumpul al-Qur’an. Ada sebenarnya faktor yang justru berpengaruh dan urgen akan tetapi tidak dijelaskan bahkan atau mungkin tidak dijadikan alasan oleh Abu Bakar yakni prihal kemampuan Zain dalam menghafal al-Qur’an.
Menurut realita sejarah tidak ada garansi yang diberikan oleh Rasulullah perihal kemampuan Zaid bin Tsabit. Berbeda misalnya dengan apa yang terjadi pada Abdullah bin Abbas atau Ali bin Abi Thalib sendiri yang mendapat garansi dari Rasul perihal kemampuannya. Akan tetapi kenapa justru Zaid bin Tsabit yang mendapatkan atau dipercayai sebagai pentadwin al-Qur’an?
Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah termasuk keponakan Nabi yang masuk Islam pada usia yang relative muda, ia juga termasuk diantara sahabat yang masuk Islam pertama. Menurut riwayat Ia masuk islam setelah istri Nabi Khadijah, dalam riwayat lain ia orang kedua yang masuk Islam setelah Abu Bakar.
Diceritakan dalam sebuah riwayat bahwa Ali sebagai pungumpul pertama al-Qur’an berdasar perintah nabi sendiri. Sebagaimana diriwayatkan oleh al-Zanjani bahwa suatu ketika Nabi pernah berkata kepada Nabi: “Hai Ali, al-Qur’an ada dibelakang tempat tidurku, (tertulis) di atas shuhuf, sutera dan kertas, ambil dan kumpulkanlah, jangan sia-siakan seperti orang yahudi menyia-nyiakan Taurat.” Disebutkan oleh al-Zanjani bahwa pada waktu itu Ali menuju ke tempat itu dan membungkus bahan-bahan tersebut dengan kain berwarna kuning, kemudian disegel”.
Disamping kepercayaan yag diberikan Rasul di atas, Ali pernah dijuluki oleh Nabi sebagai pintu dari pada ilmu, ia juga pernah dido’akan oleh Nabi: “Semoga Allah meneguhkan lisanmu dan memberikan petunjuk pada hatimu”. Kemudian dalam sebuah cerita yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim bahwa Ali pernah berkata: “Demi Allah, tidaklah turun suatu ayat kecuali aku benar-benar mengetahui sebab apa ia diturunkan. Sungguh, Tuhanku telah menganugrahkan kepadaku hati yang berakal dan lisan yang aktif bertanya”.
Ibn Mas’ud
Ib Mas’ud yang mempunyai nama lengkap ‘Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib al-Hadzli ra adalah salah seorang sahabat Nabi yang mempunyai otoritas besar dalam al-Qur’an. Ia juga merupakan salah seorang dari empat besar sahabat yang direkomendasikan oleh Nabi sebagai tempat bertanya tentang al-Qur’an. Otoritas dan populeritasnya dalam kajian al-Qur’an memuncak ketika ia bertugas di Kuffah, dimana mushafnya memiliki pengaruh besar dan luas. Masyarakat Kuffah pada waktu itu memiliki dua versi mushaf al-Qur’an yang disusun oleh Ibn Mas’ud sendiri dan mushaf Utsmani. Bahkan keberadaan mushaf versi Ibn Mas’ud pada waktu itu telah diperbanyak, seperti; mushaf Alqamah ibn Qais, Mushaf al-Rabi’, mushaf Ibn Khutsaim, mushaf al-Aswad dan masih banyak lagi yang lainnya.
Bagi saya Yang menarik dan patut dipertanyakan tentang Ibn Mas’ud adalah berkaitan dengan tidak masuknya ia dalam deretan tim pengumpul al-Qur’an versi kalangan elite pemerintah Khalifah Umar dan Ustman yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Padahal seperti yang dikatakan oleh Ibn Abu Daud penulis kitab Mashahif, Ibn Mas’ud lebih dahulu masuk Islam dibandingkan Zaid bin Tsabit. Dan yang lebih penting adalah keberadaan mushaf Ibn Mas’ud sudah populer ketika mushaf versi Utsmani belum muncul.
Abdullah bin Abbas
Dalam peta perkembangan kajian al-Qur’an, nama Abdullah bin Abbas mempunyai peranan penting dan menduduki posisi yang sangat terkemuka. Hal tersebut terlihat dari figurasi dirinya sebagai “tarjuman al-Qur’an” (penafsir al-Qur’an terbaik), ia juga dijuluki sebagai “al-habr al-Ummah” (intelektual ummat). Yang menarik dari sosok Ibn Abbas ini adalah ia pernah di do’akan oleh Rasulullah: “Ya Allah, anugrahilah dia pemahaman dalam urusan agama dan ajarilah ia takwil).
Bahkan menurut riwayat, Ibn Abbas telah membuat satu kodifikasi atas al-Qur’an yang menurut beberapa ahli mempunyai kualitas yang sama dengan mushaf Ibn Mas’ud, akan tetapi ketenaran akan alimnya dan garansi yang diberikan oleg Rasul ternyata tidak berdampak besar terhadap periode awal pentadwinan teks al-Qur’an.
Nama-nama yang disebutkan di atas di antara sahabat-sahabat Nabi yang masyhur dan mempunyai kualitas lebih atau peling rendah sebanding dengan Zaid bin Tsabit sendiri khususnya tentang penguasaan al-Qur’an. Meskipun sebanarnya banyak sahabat-sahabat lain yang juga terkenal bahkan mempunyai kodifikasi musfah sebelum munculnya mushaf Utsmani, diantaranya: Salim ibn Ma’qil (juga mendapatkan rekomendasi dari rasul perihal pencatatan wahyu dan pengajaran al-Qur’an kepada kaum muslimin), Ubai bin Ka’b (sekretaris Nabi ketika ia di Madinah), Abu Musa al-Asy’ari, Ummu Salamah, Ibn Zubayr, Ana ibn Malik, dan sahabt-sahabat lainya.
Kesimpulan
Hadirnya tulisan ini bukan berarti menggugat atau mempertanyakan kembali mengenai keotentikan al-Qur’an yang sudah lama kita pegang dan kita yakini. Tulisan ini hanya sekedar menyajikan realita sejarah yang tak mungkin kita pungkiri karena bagaimanapun sejarah diseputar kodifikasi al-Quran itu memang benar-benar terjadi dan harus kita ketahui sebagai sebuah ilmu.


Artikel ini pernah dimuat di surat Kabar Radar Lampung 2006

Jumat, 23 Oktober 2009

** In Memoriam KH. Mas Abdurrahman

In Memoriam KH. Mas Abdurrahman

Oleh:
Muhammad Hakiki & Aceng Abdul Qadir
Peneliti LP3M Universitas Mathla'ul Anwar.



Bagi sebagian orang khususnya masyarakat Banten, nama KH. Mas Abdurrahman mungkin tak begitu dikenal terkecuali bagi mereka yang aktif berkecimpung di sebuah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yakni Mathla'ul Anwar (MA). Akan tetapi, siapa yang menyangka jika kita menelusuri sejarah berdirinya MA, maka sosok KH Mas Abdurrahman bisa disandingkan dengan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul 'Ulama (NU), KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, atau Ahmad Hasan pendiri Persis.

Sosok ulama kharismatik yang mempunyai nama lengkap KH. Mas Abdurrahman bin KH. Mas Djamal Al-Djanakawi adalah merupakan produk ulama domestik kelahiran Kampung Janaka, Kecamatan Jiput Kabupaten Pandeglang. Jika kita lihat dari segi geografisnya, tempat itu berada lebih kurang 15 kilometer arah utara kota Menes. Letak wilayah kampung Janaka ini berada di sekitar kaki gunung Hasepan.

Meskipun tempat kelahiran ulama yang satu ini berasal dari daerah perkampungan atau "katro" dalam istilah Tukul, akan tetapi jika dilihat dari nama yang disandangnya dengan menggunakan gelar "Mas" adalah mencirikan bahwa ia berasal dari keturunan ningrat yakni dari garis keturunan Pahlawan Kesultanan Banten yang bernama Mas DJong.

Ulama asli kelahiran Banten ini yang dilahirkan pada tahun 1868 M dalam versi Pengurus Besar Mathla'ul Anwar atau 1875 M dalam versi anaknya yakni Muhammad Nahid Abdurrahman adalah merupakan seorang ulama yang syarat akan kedalaman dan keluasan ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dari aneka ragam karya yang dihasilkannya.

Produk santri Timur Tengah (baca: Makkah) ini pada masanya adalah figur seorang ulama yang sangat sulit dicari tandingannya. Karena alasan itulah, maka semenjak kepulangannya dari tanah suci Makkah, dan kemudian mengabdikan dirinya untuk mengelola Mathla'ul Anwar, membuat namanya langsung melonjak dalam deretan ulama terpopuler di Indonesia disandingkan dengan KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan dan ulama-ulama masyhur lainnya.

Terkait dengan momen memperingati milad MA yang ke 91, tepatnya pada tanggal 9 Agustus, maka dalam kesempatan kali ini, sebagai wujud penghormatan kepada jasa beliau, penulis akan mencoba melakukan pemotretan terhadap pola pembelajaran yang diterapkan oleh beliau yang menurut penulis adalah merupakan pola yang brilian dan juga masih sangat relevan dan urgen jika diterapkan untuk saat ini khususnya dilingkungan lembaga pendidikan berbasis madrasah atau pondok pesantren. Pola pembelajaran yang diterapkan oleh KH. Mas Abdurrahman pada masanya terbukti dapat memproduksi sumber daya manusia yang berkualitas khususnya dalam kajian agama Islam.

Yang menarik dari MA, semenjak berdirinya, lembaga perguruan MA telah menerapkan pola klasifikasi pembelajaran. Pola klasifikasi yang diterapkannya menurut itungan tahun bukan berdasarkan jenjang; yakni Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Murid yang menempuh pendidikan di MA pada awalnya di didik selama tujuh tahun. Pola ini kemudian mendapat perubahan pada tahun 1927 M oleh KH. Junaidi seorang ulama setempat yang baru pulang dari Mesir. Ia menyarankan agar masa pendidikan yang diterapkan di MA di tambah dua tahun menjadi sembilan tahun yang terdiri dari kelas persiapan atau kelas A dan B, dan dilanjutkan dengan kelas I sampai kelas VII.

Setelah pola klasifikasi menurut itungan tahun telah lama diterapkan, napaknya kurang mencapai hasil yang memuaskan karena sulitnya mengatur tingkatan materi pelajaran. Karena alasan itulah, maka, berdasarkan hasil musyawarah, pola tersebut kemudian diubah menjadi sistem berjenjang; yakni jenjang Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Pola klasifikasi yang diterapkan MA pada saat itu adalah sebuah pola yang terbilang maju atau modern, mengingat lembaga-lembaga pendidikan lainya seperti yang dikelola oleh NU sendiri yakni pesantren masih menerapkan pola pendidikan tradisional yang tak mengenal pembagian jenjang seperti itu. Pola pembagian jenjang ditubuh MA ini nampaknya adalah hasil adopsi para ulama termasuk di dalamnya KH Mas Abdurrahman, KH Junaidi dari Timur Tengah terutama dari Mesir.

Pola pembagian berjenjang itu, pada awalnya memang menyulitkan para murid (santri). Perasaan ini muncul diakibatkan oleh kebiasaan mereka sebelumnya yang merasa bebas tanpa ada disiplin yang ketat. Dalam pola pembelajaran pesantren tradisional tak terlihat jelas antara murid yang lama dan baru, atau yang sudah cakap (mahir) atau pemula. Semuanya dikelompokkan dalam ruang dan fasilitas yang sama. Berbeda dengan pola yang diterapkan oleh MA, antar murid terlihat jelas setatus keilmuannya. Bahkan dengan memakai sistem berjenjang tersebut, minat belajar santri dipaksa untuk ditingkatkan, karena jika tidak, maka ancaman tidak naik kelas pun berlaku.

Pola yang pada awalnya "menakutkan" bagi murid ternyata lambat laun justru digemari oleh murid. Dan pola inilah yang kemudian membawa MA menjadi salah satu organisasi pengelola lembaga pendidikan yang digemari oleh masyarakat luas. Hal ini terlihat dari banyaknya cabang-cabang lembaga pendidikan yang berpayung di bawah MA muncul di mana-mana. Salah satu cabang madrasah MA yang pertama kali didirikan adalah madrasah MA di Kayu Jati yang dipimpin oleh KH. Abbas.

Bahkan jika kita menelusur sejarah MA, sangat luar biasa. Pada usia yang masih terbilang muda, pada tahun 1929, MA telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan khusus putri yang dikomandoi oleh Ny. Hj. Zaenab binti KH. Yasin. Langkah terobosan ini sangat berani mengingat pada saat itu, baik itu kondisi di masyarakat maupun kondisi negara masih sangat tabu jika seorang perempuan diberikan kesempatan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Akan tetapi sangat disayangkan, informasi yang menyajikan nasib perkembangan lembaga pendidikan khusus putri tersebut pada masanya terutama pengaruhnya dimasyarakat sampai saat ini belum terungkap.

Pola pendidikan yag diterapkan oleh MA adalah pola perpaduan antara sistem madrasah dan sistem pesantren. Para murid dibagi ke dalam tingkatan kelas, masing-masing kelas diberikan kurikulum yang berbeda, dan masing-masing kelas dipimpin oleh guru yang berbeda pula disesuaikan dengan tingkatan keilmuannya. Dengan pola pengaturan ini, maka murid akan dibekali keilmuan secara sistematis mengingat kurikulum yang diterapkan pun diatur secara sistematis pula, dari mulai pelajaran tingkat dasar sampai tingkat yang lebih tinggi. Pola ini terbukti telah mempu menciptakan lulusan yang berkualitas dan mempunyai penguasaan ilmu yang cukup komprehensif.

Yang lebih menarik dari pola pembelajaran MA saat itu adalah pengisian waktu liburan. Dalam hari libur yakni hari kamis dan jum'at, antara para guru dan murid diberikan waktu untuk menimba ilmu kepada guru-guru senior diluar kelas. Khusus untuk para murid, yakni yang berada di kelas IV sampai kelas VI dituntut untuk menyelenggarakan acara muqabalah ke kampung-kampung yang berada di sekitar perguruan MA.

Kegiatan muqabalah adalah sebuah pembekalan kepada para murid yang dibimbing oleh masing-masing guru untuk belajar berdakwah. Dalam kegiatan itu biasanya para murid membawa makanan untuk disedekahkan disamping pula membawa berbagai kitab sebagai bahan materi untuk mengisi pengajian-pengajian di kampung tersebut.

Kegiatan ini diterapkan disamping sebagai media pembelajaran bagi para siswa baik itu kemampuan keilmuan maupun mental, juga sebagai media pengujian terhadap penguasaan akan materi. Pada saat proses muqabalah, para dewan guru, masyarakat dan para santri sebayanya menyaksikan para murid membaca kitab kuning. Pada kegiatan ini, biasanya masing-masing murid diberikan sesi tanya jawab atau koreksi terhadap pembaca kitab. Ketika momen ini berlangsung, antara para murid saling berdiskusi bahkan berdebat satu sama lainnya. Bila muncul suatu permasalahan yang tidak bisa diselesaikan, biasanya para dewan guru memberika jawabannya.

Cara ini terbilang sangat efektif karena masing-masing murid akan terpacu untuk selalu meningkatkan pengetahuannya. Dan cara ini juga memberikan keuntungan bagi para murid untuk menambah wawasan yang tidak dapatkan di dalam kelas.

Tidak hanya itu, pada akhir tahun, yakni pada bulan Shafar sampai bulan maulid, para santri mengikuti ujian atau pengetesan. Dalam pengetesan ini, KH. Mas Abdurrahman secara langsung melakukannya. Dan pada tanggal 20 Ruah diadakan perayaan kenaikan kelas. Dan pada acara ini biasanya segenap pengurus MA, para kiayi, masyarakat luas menghadiri acara tersebut. Dan menurut penuturan salah seorang santri tempo dulu, pada saat itu biasanya jalan antara menes dan labuan macet total.

Dengan memakai pola pembelajaran seperti di atas, maka perkembangan lembaga pendidikan MA semakin hari semakin menunjukan perkembangan yag sangat pesat. Perkembangan lembaga pendidikan MA tidak hanya berkembang di daerah tempat berdirinya yakni di sekitar Kabupaten Pandeglang, akan tetapi lembaga pendidikan MA telah muncul di dimana-mana bahkan di luar provinsi Jawa Barat pada zaman dahulu (baca: kini Banten). Menurut keterangn yang disampaikan Ketua Umum PB MA, HM. Irsyad Djuwaeli bahwa pada tahun 1996 saja lembaga pendidikan yang dimiliki MA telah mencapai sekitar enam ribu sekolah yang meliputi; Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi.

Perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan MA memang disebabkan oleh perwakilan kepengurusan MA yang hampir berada di setiap daerah. Bahkan menurut HM. Irsyad Djuwaeli "Mathla'ul Anwar telah memiliki perwakilan di 25 Propinsi dan 215 Kabupaten/Kodya di Indonesia. Keberhasilan ini adalah prestasi yang membanggakan, wujud kerja keras segenap aktifis dan jajaran PB MA. Sebab sebagaimana kita ketahui, pada saat mukhtamar tahun 1980 M, Mathla'ul Anwar hanya memiliki pengurus aktif di 4 Propinsi saja". Bahkan perkembangan MA kini semakin bertambah pesat dengan didirikannya sebuah Universitas Mathla'ul Anwar pada tahun 2001 yang memiliki sebelas fakultas dan memiliki ribuan mahasiswa.

Pola pembelajaran yang diterapkan oleh KH. Mas Abdurrahman, pada masanya memang terbukti ampuh. Para alumni perguruan MA saat itu dipercaya oleh masyarakat luas sebagai lulusan yang mempunyai kecakapan ilmu pengetahuan. Sehingga ketika ia kembali ke daerah masing-masing, tak merasa kesulitan untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Akan tetapi masihkah pola pembelajaran yang diterapkan oleh KH Mas Abdurrhaman yang terbukti berhasil itu kini masih diterapkan di perguruan MA. Pertanyaan ini perlu mendapat penelusuran lebih jauh lagi mengingat secara sepintas (penelusuran awal) pola pembelajaran itu kini telah sirna. [ ]


Tulisan ini pernah dimuat di kolom Opini Surat Kabar Fajar Banten, Agustus 2007